Petani Kembangkan Intensifikasi Padi Sawah Organik

By : JDIH
16 Aug ,2018 21:38:45 PM

Para petani di Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mulai mengembangkan sistim intensifikasi padi sawah organik dimana semua proses dalam sistem ini menggunakan bahan-bahan oganik.

Pengembangan areal persawahan organik dengan sistem terbaru di Sulawesi Tengah ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Sumber Makmur Desa Pandauke, Kecamatan Mamosalato, di bawah binaan Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Medco E&P Tomori, sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai yang beroperasi di Pulau Tiaka, Kecamatan Mamosalato.

Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kematan Mamosalato, Gunawan yang ditemui di lokasi demplot sawah organik itu, Sabtu, menjelaskan bahwa sistem ini memiliki banyak keuntungan terutama karena semua proses intensifikasi tidak menggunakan bahan kimia baik dalam pemupukan, penyemprotan hama maupun pemberantasan gulma.

"Insektisida dan pestisida serta pupuk yang kami gunakan semuanya adalah bahan organik dari tumbuh-tumbuhan yang ada di desa ini," ujar Gunawan yang didampingi Atma Agus Hermawan, Community Development Officer JOB Pertamina-Medco E-P Tomori dan sejumlah petani anggota Kelompok Tani Sumber Mekar.

Keuntungan lainnya adalah sistem ini sangat hemat air, karena air hanya dibutuhkan saat penyiapan lahan dan penyiangan rerumputan. Itupun volume airnya tidak begitu banyak.Selain hemat air, sistem ini sangat hemat benih. Setiap hektare dalam sistem intensifikasi ini hanya membutuhkan paling banyak lima kilogram benih, sementara dalam sistem intensifikasi biasa membutuhkan benih rata-rata 25 kg.

"Sistem ini hemat benih karena setiap benih yang ditanam hanya terdiri dari satu butir gabah benih saja," kata Gunawan menjelaskan.Benih disemaikan di sebuah talang selama 7-8 hari, dan setelah berkecambah, benih itu dipisahkan butir perbutir kemudian ditanam di sawah dengan teknis tertentu. Dalam beberapa hari kemudian, benih ini akan bertumbuh dan beranak hingga menghasilakn enam-sampai sepuluh batang padi baru.“Umur panen mencapai 110 hari dan produktivitasnya juga tinggi, karena mayang padi lebih panjang dari mayang padi dalam sistem intensifikasi biasa,” kata Gunawan lagi.

Sementara itu, Atma Agus Hermawan dari JOB Pertamina-Medco membenarkan hal itu dan mengatakan bahwa sebelum demplot ini dilaksanakan, mereka sudah menguji coba sistem ini pada areal 10 are. Hasil ubinan yang dilakukan teknisi dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas sistem intensifikasi ini mencapai 7,3 ton/hektare. Keuntungan lainnya sistem ini adalah untuk sekali tanam, panen bisa dilakukan sampai tiga kali. Karena itu sistem ini disebut "sri salibu organik" yang artinya sistem intensifikasi pagi organik sekali tanam tiga kali panen, kata Agus lagi. Setelah panen pertama, rumpum padi akan kembali dipupuk dan kemudian berbuah lagi, dan setelah panen kedua, rumpun padi yang sama akan kembali berbuah dan menghasilkan panen ketiga. "Sesuai pengalaman, panen kedua dan panen ketiga ini lebih banyak hasilnya dari panen pertama," ujar Atma Agus Hermawan. Ia menambahkan areal percontohan (demplot) perdana ini baru mencapai 0,837 hektare pada lahan beririgasi teknis milik Rustam Malik dan isterinya Ratna.

"Kami sangat bangga dengan adanya sistem intensifikasi organik ini karena sawah kami bebas dari zat-zat kimia. Penggunaan bahan-bahan kimia dalam sistem intensifikasi selama ini bisa mengancam kesehatan manusia dan juga kesuburan lahan," kata Ratna yang juga penyuluh pertanian lapangan yang hingga kini belum terangkat menjadi PNS itu. Pada areal itu, mereka menanam empat jenis benih unggul yakni sintanur, ratu legit, toyo arum dan superwin jumbo. Perkembangan tanaman sangat menggembirakan dan setiap hari Selasa, dilakukan pengamatan oleh para petugas penyuluh pertanian yang ada di kecamatan itu. Untuk mendukung kelancaran sistem itu, kelompok tani sumber Makmur juga mengembangkan unit pembuatan pupuk, pestisida dan isektisida organik (mol) di lokasi demplot sehingga semua kebutuhan bahan-bahan tersebut bisa dipenuhi sendiri sehingga biaya pengembangan sistem intensifikasi ini juga sangat murah.

"Untuk pupuk kompos, kami sudah hasilkan lebih dari 10 ton," ujar Rustam Malik dan menambahkan bahwa untuk membuat upuk organik sangat mudah karena bahan-bahannya tersedia cukup banyak di daerah itu, baik berupa kotoran hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Rustam optimistis sistem ini akan berhasil dan bisa dikembangkan secara lebih luas oleh para petani Mamosalato. Yang dibutuhkan saat ini adalah kemauan dan ketelatenan petani. "Kalau petani mau dan telaten, sistem ini pasti sukses. Awalnya memang terasa rumit, tetapi setelah dipraktikan, ternyata sederhana dan mudah," ujarnya. Sistem seperti ini, kata Atma Agus Hermawan, sudah dikembangkan perusahaannya di bebagai daerah di Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua, dan hasilnya sangat menggembirakan. Khusus untuk SuUlawesi Tengah, ini yang pertama kali diperkenalkan kepada para petani, ujarnya.

Sumber: antarasulteng.com

BERITA TERBARU